Laesan Lasem Resmi Jadi Warisan Budaya Tak Benda, Dinbudpar Rembang Bidik Target Lebih Luas
Kesenian tradisional Laesan Lasem kini resmi menyandang status sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia (WBTBI). (Foto: Dinbudpar Rembang for TIMES Indonesia)

Laesan Lasem Resmi Jadi Warisan Budaya Tak Benda, Dinbudpar Rembang Bidik Target Lebih Luas

Laesan Lasem resmi jadi Warisan Budaya Tak Benda Indonesia, jadi kebanggaan Rembang dan akan dikembangkan lewat pendidikan, event, dan pelestarian budaya.

TIMES Rembang,Senin 27 April 2026, 20:07 WIB
749
E
Ezra Vandika

REMBANGKesenian tradisional Laesan Lasem kini resmi menyandang status sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia (WBTBI). Capaian ini ditandai dengan diterbitkannya sertifikat pengakuan untuk Kabupaten Rembang sebagai bentuk penghargaan atas pelestarian budaya lokal.

Sekretaris Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Dinbudpar) Kabupaten Rembang, Isti Choma Wati, M.Pd., menyampaikan rasa syukurnya atas pencapaian tersebut. Ia menjelaskan bahwa usulan ini telah diproses sejak tahun lalu dan resmi ditetapkan pada akhir Desember 2024, sementara penyerahan sertifikat baru saja dilakukan pada 21-22 April 2026.

"Kami sangat berterima kasih atas pengakuan ini. Laesan Lasem akhirnya mendapatkan sertifikat WBTBI untuk tahun 2025. Ini adalah sebuah penghargaan besar bagi kekayaan budaya kita," ujar Isti saat memberikan keterangan, Senin (27/4/2026).

article

Meski menyambut baik prestasi ini, Isti menekankan bahwa jalan menuju sertifikasi budaya tidaklah mudah. Dinbudpar menargetkan ke depannya tidak hanya satu kesenian yang didaftarkan setiap tahunnya, melainkan mencakup berbagai aspek termasuk kuliner khas daerah.

"Untuk menuju sertifikasi itu memang tidak mudah. Kita harus mencari sumber data yang benar-benar akurat dan menjelaskan secara runtut. Misalnya untuk kuliner, harus detail soal sejarahnya, bumbunya apa saja, hingga cara membuatnya. Semua harus autentik," jelasnya. Selain validasi data, faktor anggaran juga menjadi aspek penting dalam proses pengusulan ke tingkat nasional.

Guna menjaga keberlangsungan Laesan Lasem agar tidak punah, Dinbudpar berencana melakukan langkah strategis melalui dunia pendidikan. Isti menyebut bahwa sekolah adalah sarana paling efektif untuk mengenalkan budaya kepada generasi muda.

article

Pihaknya berencana menjalin kolaborasi dengan Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Dindikpora) Kabupaten Rembang untuk memasukkan kesenian Laesan ke dalam kegiatan pembelajaran atau ekstrakurikuler.

"Harapannya nanti bisa diajarkan di sekolah-sekolah. Laesan akan memperkaya khazanah seni kita selain Tari Gondorio dan Tari Orek-Orek yang sudah lebih dulu eksis. Kami juga memikirkan peluang untuk mengadakannya dalam bentuk perlombaan atau event khusus," tambahnya.

Dengan status baru sebagai Warisan Budaya Tak Benda, Laesan Lasem diharapkan tidak hanya menjadi kebanggaan di atas kertas, tetapi benar-benar hidup dan berkembang di tengah masyarakat Rembang, bersanding dengan kekayaan tradisi lainnya yang telah diakui secara nasional. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Berita ini juga tayang di portal nasional

Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.

Baca di sini
Penulis:Ezra Vandika
|
Editor:Hendarmono Al Sidarto

News Logo

Media Online No 1 Pembangun Ketahanan Informasi di Rembang, Menyajikan Berita Terkini Seputar Berita Politik, Bisnis, Olahraga, Artis, Hukum, yang membangun, menginspirasi, dan berpositif thinking berdasarkan jurnalisme positif.

Kanal Utama

    Kontak Kami

    • Jl. Besar Ijen No.90, Oro-oro Dowo, Kec. Klojen, Kota Malang, Jawa Timur 65116
    • (0341) 563566
    • [email protected]

    Berlangganan

    Dapatkan berita terbaru langsung di inbox Anda

    Member Of

    Logo WANIFRALogo AMSILogo Dewan PersLogo Trusted

    SUPPORTED BY

    Logo Varnion
    © 2025 TIMES Indonesia. All rights reserved.